Rabu, 11 Februari 2026


Mutiara, 11 Februari 2026. Wajah tua yang termakan usia berdiri di pintu. Memandang tamu asing yang tak dikenalnya. Beberapa kali diyakinkan kalau kita pernah bersama menikmati udara sejuk di bukit Mutiara. Namun beliau tetap menolak dikunjungi. Pakaianku kotor, pergi sana.... Itulah cerita dari bu Ratnawilis bersama rombongan guru yang sudah purnabakti. 

Sosok yang hangat dan disegani tentunya. Dimasa itu mutiara masih mencari murid untuk diajar. Bahkan mutiara tidak pernah menolak murid yang tinggal kelas di tempat lain untuk diterima. Diantaranya ada bekas preman pasar dan ada juga yang beda agama. 

Beliau adalah Bapak Ajiz Ruslan, karena jasa beliaulah mutiara bisa kita nikmati dan megah seperti sekarang. Waktu itu beliau ditemani Bu Wahdiar Wahid (almh), mereka selalu mencari solusi demi kemajuan mutiara. Inilah cerita yang kudengar dari bu Elwati sebagai guru senior. 

Bapak Azis adalah sosok yang selalu menjadi teladan yang tak segan memungut sampah sehingga para murid juga ikut tanpa diperintah. Berpakaian rapi dengan sepatu yang mengkilap. Apalagi sisir rambut beliau juga sangat rapi, ujar  dzah Met mengomentari. Seakan semua kenangan masih terbayang. 

Ada suatu harga yang tak bisa dibalas dengan apapun. Kenangan yang terukir adalah saksi bisu, secuil perjuangan masa lalu Bapak Aziz. Mudah-mudahan Allah redha dengan berbalas surga Firdaus. Aamiin

Alhamdulillah, saat ini kita masih mengenal sosok yang begitu berarti. 

Sehat selalu Pak Aziz, terimakasih telah memberi kami peluang untuk menebar kebaikan dengan hasil tetesan keringat Bapak. 

 

Mutiara, 11 Februari 2026. Wajah tua yang termakan usia berdiri di pintu. Memandang tamu asing yang tak dikenalnya. Beberapa kali diyakinkan...