ayo, belajar bareng Rustia
Rabu, 24 Juni 2026
Aku Bahagia, Kamu Juga
Yang Penting Ketenangan
Pagi ini cuaca tenang. Sinar sang surya terlihat tak secerah biasanya. Sinar yang temaram, mendung menyelimuti. Di jalan beton tampak lalu lalang kendaraan dengan segala tipe. Ada obat gatal kata wanita paruh baya mendekatiku sambil melibatkan tangannya gatal. Ibu mau salaf yang warna hijau, tanyaku. Ia pun mengangguk.
Selesai pembayaran si ibu mengutarakan harga minyak tanah yang tak seperti biasanya sambil menunjuk dirigen isi lima liter. Harganya naik setiap minggu, katanya dengan nada berat. Ibu masak pakai kompor minyak? tanyaku penasaran. Iya aku takut pakai kompor gas, liriknya sambil tersenyum kecut. Aku juga dulunya takut bu, tapi sekarang tidak lagi. Kataku menyemangati. Dalam hati aku berharap ibu bisa terpengaruh dengan ucapanku. Karena lima liter perminggu cukup menguras kantong untuk sebulan. Sambil tersenyum ibu menjawab yang penting kenyamanan. Mendengar jawaban si ibu akupun tersenyum.
Sabtu, 09 Mei 2026
All you need is last
Kurangi Segalanya kalau ingin sukses
1. Kurangi stress yang tidak perlu. (Ngaji,zikir,olah raga, jalan santai dll.beri penghargaan buat badan.
2.Kurangi pikiran yang tidak perlu.
3. Kurangi beli barang yang tidak perlu.
4. Bergaulah dengan orang yang lebih dari anda
5. Kurangi kawatir yang tidak perlu. Anda adalah apa yang anda pikirkan.
PANTUN
Bunga telang dekat buluh
Bunga melati melilit batu
Kami datang dari jauh
Maksud hati menjemput menantu
Songket bermotif pucuk rebung
Pakai tajak duduk bersila
Muda kreatif berhati lapang
Berkata bijak beradat pula
Talam berisi singgang ayam
Budaya negeri minang kabau
Sudah tradisi kearifan alam
Tanda diberi semua terpukau
Tepak berisi ramuan sirih
Dikunyah sepat bibir merona
Iman diisi pikiran jernih
Tangan dijabat keluarga terbina
Getah gambir dalam cetakan
Simpan di kaleng agar terjaga
Karena takdir Allah jodohkan
Semoga langgeng sampai ke syurga
Pantun Majlis
PANTUN MAJELIS MENJEMPUT PENGANTEN
Oleh : Rustia Warnida
Bunga telang dekat jerami
Bunga melati dalam taman
Kami datang untuk bersilaturahmi
Sambutlah salam tanda seiman
Burung kenari makan semangka
Paruh menyeruput tanda kehausan
Kami kemari berhati suka
Menjemput pengantin naik pelaminan
Pompang ditabuh bersahutan
Berdendang riang si anak negeri
Tepak ditaruh adat dijalankan
Makan jenang wajah berseri
Buka kantin jam delapan
Beli ketan makan sendiri
Pakaian pengantin kami antarkan
Pembalut badan raja sehari
Banyak lebah di batang kenari
Madu lengket manis rasanya
Pengantin gagah wajah berseri
Pakai songket bertanjak pula
Buah jarak dekat jembatan
Buah durian rasa matoa
Pengantin diarak menuju pelaminan
Mohon doa restu orang tua
Duri, 7 April 2026
Minggu, 26 April 2026
Makan Berhidang Budaya Melayu Riau
Mutiara, 24 April 2026 seluruh siswa kelas enam SDS IT Mutiara mengikuti ujian praktek "Makan Berhidang Budaya Melayu Riau." seperti pribahasa Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Sebagai ujud nyata dari pembelajaran BMR untuk memperkenalkan budaya untuk generasi Rabbani. Tentu pembelajaran ini merupakan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai warga asli Riau maupun sebagai warga dari daerah lain yang berdomisili di Riau.
Praktek makan berhidang tentu tak lepas dari cara makan serta sopan santun makan bersama baik bersama teman, guru, serta tim penilai. Bu Yusnidar sebagai guru BMR beserta bu Mintowati, bu Yurismawati, dan bu Bella menilai dengan kriteria adab makan, tata hidangan, dan kelengkapan menu.
Kelas enam yang berjumlah lima kelas dibagi menjadi tiga kelompok perkelas. Adapun sajian dari setiap kelompok menampilkan beragam menu khas Melayu diantara ada makan pokok, aneka sambal seperti asam padeh patin, gulai patin, ikan baung goreng, gulai nenas, pais ikan, sambal terasi, goreng ayam dan lain-lain. Menu ini juga dilengkapi aneka sayur, urap, serta kue seperti kue bolu kemojo, kue asidah, roti jala, minuman air mata penganten, laksamana mengamuk, serta buah-buahan.
Dalam setiap kelompok ada ketua yang akan menjelaskan ragam menu yang terhidang. Bahkan setiap anggota juga harus menunjukan skill tentang makan yang disiapkan. Ada kemampuan mengungkap pikiran dan perasaan yang mengasah daya kreativitas di depan orang lain. Seperti mempersilahkan majlis dalam menyantap hidangan dengan berpantun. Keahlian ini bisa muncul dengan latar suasana yang menyenangkan.
Jalan-jalan ke Padang Pulang-pulang bawa jerami Marilah kita makan berhidang Untuk mempererat tali silaturahmi
Kegiatan ini juga tak lepas dari sinergi sekolah bersama orang tua. Ada rasa senang dari raut wajah yang menunjukan betapa antuas bahkan juga ikut hadir di sela kesibukan. Kerjasama dalam menyiapkan peralatan, bahan, sampai tata letak hidangan. Sebagai bukti bahwa anak juga bisa belajar dari orang tua tentang ragam budaya di lingkungan tempat tinggal.
Alhamdulillah, semua anak merasa senang dengan adanya makan berhidang. Mereka mengerti cara duduk, mengambil makanan, mencuci tangan, serta sopan santun dalam makan. Pada kesempatan ini hadir Kepsek yaitu ustadz Ali Sibra Malisi S. HI bersama rombongan seperti Ms Anita Sofya, S. Pd, Ing.M.M, Ustadz Ahmad Syarwani, S. Pd ing, bu Siski Yuliant Rina, S. Si, M. M ,Bu Dra. Gusni Eliza, beserta bu Indriani, S, Si. Setelah mencicipi makanan beliau mengucapkan terimakasih dan menyampaikan apresiasi semoga pembelajaran ini bisa membawa hikmah, serta rasa syukur terhadap Allah SWT.
Rabu, 15 April 2026
Perahu Terbalik
Dari bidikan kamera ada planet biru sedang mengorbit. Itulah bumi yang merupakan setitik debu di lautan kosmik yang tak terbatas. Bergerak di antara planet raksasa. Ini bukti bahwa alam semesta yang memiliki imajinasi yang jauh lebih besar dari imajinasi manusia terliar sekalipun.
Dalam Surat Ad Dhuha Allah bersumpah,
Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringnya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit serta pembinaannya ( yang menakjubkan).
Bumi yang terlihat seperti perahu terbalik menghias ruang angkasa. Dengan hiasan biru muda. Ada malam yang menyelimuti. Betapa indah ciptaan-Mu ya Illahi Rabbi. Tak lepas mata memandang, tak kuat rasa untuk memikirkan kecuali hanya rasa syukur yang terus bergejolak. Sebagai tanda cinta yang tak akan habis walau berpisah nyawa dari raga.
Sebagai makhluk teristimewa, engkau ciptakan hamparan yang menakjubkan bagi yang sanggup berpikir. Dunia yang fana itu penuh riak gejolak nafsu tapi terkadang manusia teristimewa itu sering tak sanggup mengambil hikmah dari ciptaan-Mu.
Bagai malam tanpa bulan, itulah pribahasa yang menggambarkan ketika suasana hati hampa. Hati sebagai ruang kendali apakah kita masih layak sebagai manusia teristimewa atau malah lebih hina dari binatang. Semua terpulang bagi pribadi yang menganggap diri tak berarti tanpa redha dari Pencipta alam semesta.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَسَبِّحْ بِا سْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ
Fasabbih bismi robbikal-'azhiim
"Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar."
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 74)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
Aku Bahagia, Kamu Juga
Minggu, 7 Juni 2026 Halte Bus Komplek PT PHR Sebanga masih sunyi karena hari masih pagi. Udara terasa dingin dan lampu-lampu masih menyala. ...
-
Tanah airku tidak ku lupakan, kan terkenang selama hidup ku..... *** Kampung halaman yang sangat asri itu bernama Tantaman, Kecamatan Pale...
-
Mutiara, 11 Februari 2026. Wajah tua yang termakan usia berdiri di pintu. Memandang tamu asing yang tak dikenalnya. Beberapa kali diyakinkan...
-
Mutiara , 29 Oktober 2025. SD IT Mutiara memeriahkan Bulan Bahasa dengan mengadakan berbagai lomba. Ustadz Ali Sibra Malisi, S.HI selaku kep...






