"Mati Rasa Meski Sayang Tak Kurang-Kurang"
Jangan bersimpuh di hadapan duka...........Hadapi segala ujian dalam kesulitan pasti ada kemudahan..... (Nasyid by Selasa Pagi)
****
Gedung Lancang Kuning, Sabtu, 24 Januari 2026.
Kehadiran bapak atau ibu adalah berkah dari Allah, ujar ustadz Ahmad Syarwani, S. Pd. dalam sambutannya sebagai ketua panitia. "Sungguh acara yang sayang dilewatkan hanya orang pilihan yang bisa meluangkan waktu untuk hadir."kata ust. Ahmad lagi.
"Agar perhatian tidak berujung penyesalan. Karena mendidik bukan hanya di dunia tapi juga untuk akhirat." Kata Ust. Emrizal saat memandu acara. Selanjutnya mempersilahkan Ustadz Muhammad Fauzil Adhim, S. Psi dengan materi yang menggelitik relung hati baik sebagai orang tua atau pun sebagai guru.
Affluensa, menabung kegagalan dalam berinteraksi. Suatu kata yang membuat hati terkejut. Tanpa disadari, selama ini kita sudah merasa nyaman tapi tidak aman.
"Tanda hari kiamat, jika seorang perempuan melahirkan tuannya(anak yang memperbudak orang tuanya)." Yang selalu mengiyakan anak dalam semua urusan dari kecil.
Umur 7 tahun anak harus diberi pembatasan dalam urusan tempat tidur. Masa usia penting karena agar anak peka dan ada empati. Di usia 10 tahun harus dipisah. Jadi pola pengasuhan anak dari usia 2,7,10 tahun, harus mendapat perhatian khusus dalam meletakan pondasi yang kuat dalam pendidikan anak. Di usia ini anak harus dididik oleh guru yang sangat berpengalaman.
Pola pengasuhan anak :
1. Anak lahir di atas fitrah, maka kita harus menjaga agar tidak menyimpang.
2. Anak-anak yang memperbudak akan muncul karena kita menyelisihi tuntutan.
3. Pengetahuan itu berbeda dengan pemahaman berbeda pula dengan keyakinan. Orang tahu tapi tidak mengamalkan.
4. Unta yang membawa kitab di punggungnya. Kita perlu melatih empati anak. Jangan menukar kehadiran orang tua dengan uang, tanpa mempedulikan kewajiban anak. Jangan memberi sebagai ujud perhatian atau penukar agar affluensa ( berkembang identitas ditentukan berdasarkan uang) tidak berkembang.
"Uang menuntut tanggung jawab. Bukan sebaliknya, tanggung jawab menuntut uang."
Rusaknya empati karena bahasa, berikan penjelasan batasan yang jelas melindungi anak dari sikap merasa berhak.
Rusaknya anak karena bahasa uang. Penundaan kepuasan adalah hal yang normal, bahkan ketika uang tersedia. Menurut keinginan anak menghalangi anak anak belajar mengendalikan keinginan dan menghambat kemampuan memahami prioritas.
Kesulitan itu menempa dan memberi tantangan. Melatih lisan untuk bertanya hal hal esensial atau penting. Berikan pengalaman kepada anak. Sehingga muncul sifat Attabiat (Melatih kemandirian emosi anak).
Kunci menjadi mukmin yang kuat:
1. Menyerahkannya semua kejadian kepada Allah. Jangan meratapi apa yang terjadi.
2. Jangan mengajari anak untuk menyalahkan keadaan.
Caranya medapatkan ilmu:
- Zakatun
- Hitsun
- Ijtihadun, kesungguhan
- Dirham, uang
- Hikmah 'aliyah, motivasi yang tinggi, luhur dan niat shahiyah
Fungsi Bi'ah Sholihah:
1. Mengingat kan ketika lalai
2. Mengoreksi ketika salah
3. Mengokohkan pegangan ketika terpuruk/ditimpa fitnah.
Tantangan sehari-hari
1. Melatih anak mengatur waktu, mengelola diri, mengenali resiko, dan menetukan prioritas.
2. Anak terlatih memecahkan masalah sehari-hari tanpa menyebabkan frustasi.
3. Empati yang hidup sangat membantu anak untuk hidup bersama orang lain: masyarakat dan keluarga
4. Kepemimpinan yang baik memerlukan empati
5. Birrul walidan itu mutlak memerlukan empati
Anak yang terbiasa memegang hp di usia 13 tahun akan berdampak pada emosi walaupun yang ditonton adalah hal yang baik. Jadi tunggu anak berusia 18 tahun saat anak sudah paham dengan tanggung jawab. Main game satu jam sehari akan berdampak pada kesehatan seperti emosi tidak stabil dll.
"Alhamdulillah, Ya Allah mudahkan kami menjadi orang tua yang bisa mendidik anak menjadi generasi Rabbani"
💦💦
"Jadilah Orang Tua Yang Tidak Pernah Mati Rasa, Karena Rasa Sayang Tak Pernah Habis"