Dari bidikan kamera ada planet biru sedang mengorbit. Itulah bumi yang merupakan setitik debu di lautan kosmik yang tak terbatas. Bergerak di antara planet raksasa. Ini bukti bahwa alam semesta yang memiliki imajinasi yang jauh lebih besar dari imajinasi manusia terliar sekalipun.
Dalam Surat Ad Dhuha Allah bersumpah,
Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringnya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit serta pembinaannya ( yang menakjubkan).
Bumi yang terlihat seperti perahu terbalik menghias ruang angkasa. Dengan hiasan biru muda. Ada malam yang menyelimuti. Betapa indah ciptaan-Mu ya Illahi Rabbi. Tak lepas mata memandang, tak kuat rasa untuk memikirkan kecuali hanya rasa syukur yang terus bergejolak. Sebagai tanda cinta yang tak akan habis walau berpisah nyawa dari raga.
Sebagai makhluk teristimewa, engkau ciptakan hamparan yang menakjubkan bagi yang sanggup berpikir. Dunia yang fana itu penuh riak gejolak nafsu tapi terkadang manusia teristimewa itu sering tak sanggup mengambil hikmah dari ciptaan-Mu.
Bagai malam tanpa bulan, itulah pribahasa yang menggambarkan ketika suasana hati hampa. Hati sebagai ruang kendali apakah kita masih layak sebagai manusia teristimewa atau malah lebih hina dari binatang. Semua terpulang bagi pribadi yang menganggap diri tak berarti tanpa redha dari Pencipta alam semesta.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَسَبِّحْ بِا سْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ
Fasabbih bismi robbikal-'azhiim
"Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar."
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 74)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar