Minggu, 26 April 2026

Makan Berhidang Budaya Melayu Riau


Mutiara, 24 April 2026 seluruh siswa kelas enam SDS IT Mutiara mengikuti ujian praktek "Makan Berhidang  Budaya Melayu Riau." seperti pribahasa Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Sebagai ujud nyata dari pembelajaran BMR untuk memperkenalkan budaya untuk generasi Rabbani. Tentu pembelajaran ini merupakan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai warga asli Riau maupun sebagai warga dari daerah lain yang berdomisili di Riau. 

Praktek makan berhidang tentu tak lepas dari cara makan serta sopan santun makan bersama baik bersama teman, guru, serta tim penilai. Bu Yusnidar sebagai guru BMR beserta bu Mintowati, bu Yurismawati, dan bu Bella menilai dengan kriteria adab makan, tata hidangan, dan kelengkapan menu. 

Kelas enam yang berjumlah lima kelas dibagi menjadi tiga kelompok perkelas. Adapun sajian dari setiap kelompok menampilkan beragam menu khas Melayu diantara ada makan pokok, aneka sambal seperti asam padeh patin, gulai patin, ikan baung goreng, gulai nenas, pais ikan, sambal terasi, goreng ayam dan lain-lain. Menu ini juga dilengkapi aneka sayur, urap, serta kue seperti kue bolu kemojo, kue asidah, roti jala,  minuman air mata penganten, laksamana mengamuk, serta buah-buahan. 

Dalam setiap kelompok ada ketua yang akan menjelaskan ragam menu yang terhidang. Bahkan setiap anggota juga harus menunjukan skill tentang makan yang disiapkan. Ada kemampuan mengungkap pikiran dan perasaan yang mengasah daya kreativitas di depan orang lain. Seperti mempersilahkan majlis dalam menyantap hidangan dengan berpantun. Keahlian ini bisa muncul dengan latar suasana yang menyenangkan. 

 Jalan-jalan ke Padang                                              Pulang-pulang bawa jerami                               Marilah kita makan berhidang                                   Untuk mempererat tali silaturahmi

Kegiatan ini juga tak lepas dari sinergi sekolah bersama orang tua. Ada rasa senang dari raut wajah yang menunjukan betapa antuas bahkan juga ikut hadir di sela kesibukan. Kerjasama dalam menyiapkan peralatan, bahan, sampai tata letak hidangan. Sebagai bukti bahwa anak juga bisa belajar dari orang tua tentang ragam budaya di lingkungan tempat tinggal. 

Alhamdulillah, semua anak merasa senang dengan adanya makan berhidang. Mereka mengerti cara duduk, mengambil makanan, mencuci tangan, serta sopan santun dalam makan. Pada kesempatan ini hadir Kepsek yaitu ustadz Ali Sibra Malisi S. HI bersama rombongan seperti Ms Anita Sofya, S. Pd, Ing.M.M, Ustadz Ahmad Syarwani, S. Pd ing, bu Siski Yuliant Rina, S. Si, M. M ,Bu Dra. Gusni Eliza, beserta bu Indriani, S, Si. Setelah mencicipi makanan beliau mengucapkan terimakasih dan menyampaikan apresiasi semoga pembelajaran ini bisa membawa hikmah, serta rasa syukur terhadap Allah SWT. 

Rabu, 15 April 2026

Perahu Terbalik



Kepulangan astronaut dari luar angkasa menambah kesan takjub yang luar biasa atas kuasa Sang Pencipta. Misi beresiko tinggi, mereka berhasil memecahkan rekor bahwa manusia bisa melampaui titik terjauh dari bulan setelah puluhan tahun adanya penelitian. 

Dari bidikan kamera ada planet biru sedang mengorbit. Itulah bumi yang merupakan setitik debu di lautan kosmik yang tak terbatas. Bergerak di antara planet raksasa. Ini bukti bahwa alam semesta yang memiliki imajinasi yang jauh lebih besar dari imajinasi manusia terliar sekalipun. 

Dalam Surat Ad Dhuha Allah bersumpah, 

 Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringnya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit serta pembinaannya ( yang menakjubkan). 

Bumi yang terlihat seperti perahu terbalik menghias ruang angkasa. Dengan hiasan biru muda. Ada malam yang menyelimuti. Betapa indah ciptaan-Mu ya Illahi Rabbi. Tak lepas mata memandang, tak kuat rasa untuk memikirkan kecuali hanya rasa syukur yang terus bergejolak. Sebagai tanda cinta yang tak akan habis walau berpisah nyawa dari raga. 

Sebagai makhluk teristimewa, engkau ciptakan hamparan yang menakjubkan bagi yang sanggup berpikir. Dunia yang fana itu penuh riak gejolak nafsu tapi terkadang manusia teristimewa itu sering tak sanggup mengambil hikmah dari ciptaan-Mu. 

Bagai malam tanpa bulan, itulah pribahasa yang menggambarkan ketika suasana hati hampa. Hati sebagai ruang kendali apakah kita masih layak sebagai manusia teristimewa atau malah lebih hina dari binatang. Semua terpulang bagi pribadi yang menganggap diri tak berarti tanpa redha dari Pencipta alam semesta. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَسَبِّحْ بِا سْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

 Fasabbih bismi robbikal-'azhiim

"Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar."

(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 74)

* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id

All you need is last

 Kurangi Segalanya kalau ingin sukses 1. Kurangi stress yang tidak perlu. (Ngaji,zikir,olah raga, jalan santai dll.beri penghargaan buat bad...