Tapi nyali tak boleh surut, iven ini bukan persoalan menang atau kalah. Tapi seberapa kuat mental kita dalam menghadapi persaingan di dunia pendidikan. Apakah mengajar hanya jadi beban di saat menghadapi murid sehingga murid hanya tahu atau mengajar memberikan dampak positif sehingga murid punya suatu kompetensi untuk masa depan? Semua tergantung dari hasil yang mencerminkan praktek baik dari pembelajaran yang diempu.
Inilah yang menjadi tolak ukur bagi guru yang berani bersuara tidak saja di depan kelas tapi bisa berbicara di depan khalayak ramai. Ibarat menulis di atas air tentu semua yang dilakukan akan sia-sia. Tetapi, menulis di atas batu akan bermanfaat sepanjang hayat.
Guru yang lolos seleksi akan mengikuti berapa tahap hingga akhirnya menjadi Penyala Literasi Nasional yang akan diumumkan pada acara puncak di bulan Nopember 2026. Menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya akan mendorong lahirnya penyala literasi yang bertalenta.
Iven bertaraf Internasional ini diketuai oleh ibu Eka Teresia, S. Pd.,M.M. Adapun kegiatan yang diadakan, pertama PIL-Fes mendapat sambutan hangat baik dari dalam maupun luar Negeri. Terbukti dengan adanya 8 Negara dari 3 benua yang ikut dalam Pilfes. Setiap peserta mengirim karya baik solo maupun antologi. Mulai karya fiksi maupun nonfiksi.
Kedua adanya lomba Penyala literasi Nasional untuk Guru. Dan ketiga Penyala literasi untuk siswa lulus tahap 1 sekitar 30 orang dari 267 yang mendaftar. Semoga acara ini berdampak positif dalam meningkatkan kemampuan berliterasi baik bagi siswa, guru, maupun masyarakat.
