Sebanyak 109 orang guru lolos dari 600 lebih guru yang mendaftar untuk mengikuti seleksi guru Penyala Literasi Nasional yang diadakan PILFES (Padang Internasional Literasi Festival) di Sumatra Barat 2026. Pengumuman di bulan September itu memang sesuatu yang ditunggu. Melihat antusias guru yang ikut dari berbagai provinsi di Indonesia. Apalagi saat melengkapi bahan seleksi rasanya untuk mendapatkan penghargaan semakin tipis.
Tapi nyali tak boleh surut, iven ini bukan persoalan menang atau kalah. Tapi seberapa kuat mentalmu dalam menghadapi persaingan di dunia pendidikan. Apakah mengajar hanya jadi beban di saat menghadapi murid sehingga murid hanya tahu atau mengajar memberikan dampak positif sehingga murid punya suatu kompetensi untuk masa depan? Semua tergantung dari hasil yang mencerminkan praktek baik dari pembelajaran yang diempu.
Inilah yang menjadi tolak ukur bagi guru yang berani bersuara tidak saja di depan kelas tapi bisa berbicara di depan khalayak ramai. Ibarat menulis di atas air tentu semua yang dilakukan akan sia-sia. Tetapi, menulis di atas batu akan bermanfaat sepanjang hayat.
Guru yang lolos seleksi akan mengikuti berapa tahap hingga akhirnya menjadi Penyala Literasi Nasional yang akan diumumkan pada acara puncak di bulan Nopember 2026. Menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya akan mendorong lahirnya penyala literasi yang bertalenta.
Iven bertaraf Internasional yang digagas oleh ibu Eka Teresia. Adapun kegiatan yang diadakan, pertama Pilfes mendapat sambutan hangat baik dari dalam maupun luar Negeri. Terbukti dengan adanya 8 Negara yang ikut dalam Pilfes . Setiap peserta mengirim karya baik solo maupun antologi. Mulai karya fiksi maupun nonfiksi.
Kedua adanya lomba Penyala literasi Nasional untuk Guru. Dan ketiga Penyala literasi untuk siswa. Semoga acara ini berdampak positif dalam meningkatkan kemampuan berliterasi baik bagi bagi seluruh masyarakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar