Waktu berjalan begitu cepat, udara yang panas hingga keringat menyeruak dari ruang pori-pori. Setelah penyerahan tanda mata dari ustadz Bram kepada pihak perpustakaan serta sesi foto bersama kami pun menuju bus yang terparkir di belakang perpustakaan. Ada kenangan yang tersimpan di gawai.
Ayo, naik bus! Suasana kota terlihat rapi dan bersih. Sepanjang jalan menuju Tenayan Raya ada pasar tradisional. Ragam cemilan dan minuman sangat menggoda. Rasa ingin menyuruh sopir untuk berhenti. Ada kelapa muda, ujarku pada bu Eka. Kulihat bu Eka hanya tersenyum.
Bus pun terus melaju dari jauh pohon-pohon tinggi di Agro Wisata Pelangi mulai terlihat. Jalan yang berliku menuju lereng. Satu persatu sudah sampai dan kamipun turun. Ada lima orang pemandu sudah siap menunggu.
Setelah berbaris menurut kelas maka pemandu mengarahkan untuk foto bersama dan istirahat di saung yang sudah disediakan untuk meletakan perlengkapan dan makan bersama. Setelah makan, azan zuhur pun berkumandang. Sesuai kesepakatan maka semua sholat di mushalla kecil di area wisata.
"Ayo, adik-adik kita kumpul di depan pentas, " ujar kakak pemandu melalui toa. Suara musik menyeruak disetiap sudut area. Acara demi acara sudah disiapkan para pemandu. Mulai dari senam bersama. Dilanjutkan dengan permainan jemput teman dan berhenti di saat musik nyala. Semua berjoget sesuai irama. Ketika musik dimatikan maka harus siap untuk menjemput teman dan pegangan di pinggang teman tidak boleh terputus. Ada teriakan, ada tawa, serta rasa geli. Walau hujan mulai turun permainan ini akhirnya selesai.
![]() |
Permainan kedua dengan memegang seutas tali terpaksa dihentikan karena hujan semakin deras. Namun kesempatan ini digunakan dengan sebaik-baiknya oleh Shulthon, Rahmat, Raditya, Dega, serta Rayyan untuk bermain di Istana. Walau sudah dipanggil mereka tetap bermain sambil menghempaskan badan di balik di balik di dinding yang terbuat dari plastik. Air hujan yang sangat deras membuat tantangan tersendiri sehingga istana meliuk-liuk seakan mau roboh.
Selang berapa lama hujan pun mulai berhenti. Semua murid diarahkan menuju kebun anggur yang ada di lorong. Setelah duduk berbanjar permainan selanjutnya adalah mengambil tepung dengan kertas yang telah dibagikan. Ketika musik dihidupkan tepung diambil dengan kertas yang ada di mulut lalu membagikan kepada teman. Rahmat sebagai ketua kelompok sudah mengambil tepung dan membagikan kepada Zidan, Dega, Raditya, Abyan, Album, Khauri, dan Shulton. Sebelum dibagian ada aja tingkah mereka. Ada yang mengambil tepung dan membedakan di muka teman. Sehingga tepung yang semula banyak hanya seujung kertas yang sampai ke teman yang terakhir. Bisa dibayangkan tepung yang tertiup bisa tumpah dalam sekejap sedangan di ujung sana ada wadah yang disediakan untuk menampung tepung. Yang dapat mengumpulkan tepung terbanyak, itulah pemenangnya.
Kegiatan selanjutnya adalah yang paling seru yaitu lengkap lele di kolam yang berlumpur. Giliran pertama anak perempuan. Anak laki-laki melihat cara budidaya tanaman sayur. Yang berada di sebelah kiri kebun lengkeng yang beberapa waktu lalu sudah dipanen.
Di tepi kolam kakak pemandu memasukan lele sebagai tanda acara dimulai. Suasana mulai meriah, ada yang berteriak karena geli, ada yang di dorong temannya untuk masuk. Di tepi sana juga ada syifa dan Hafizah yang enggan untuk masuk sesekali kakinya sudah menyentuh air kolam tapi karena enggan atau geli ditarik lagi.
Suasana semakin ramai kini yang semula enggan sudah berada dalam kolam. Ada yang benar-benar total bermain lumpur dan yang yang terduduk karena tersenggol teman ada Nissa, Aurora, Zahra, Malika, Salamah, Melisza, Faiqa, Dan Quinsha. Serukan! Akhirnya semua rasa tumpah ruah bergelimang lumpur demi menangkap lele.
Setelah bergantian dengan anak laki-laki. Semua ke luar dari kolam membersihkan lumpur kran air terus menuju kolam renang yang berada di tepi kebun cabe melewati gapura tanaman labu yang sudah tak berbuah lagi. Sesekali aku membidik dengan gawai di tangan. Di tepi kolam bu Sulis dengan senang hati berenang sambil bernyanyi asyik.
Untuk lebih bersih lagi maka berenang lagi di kolam kedua yang berada dekat kolam lele. Begitu juga dengan anak laki-laki. Semua senang melompat dan berenang bersama. Hampir dua jam bermain dengan air. Terkadang mataku lepas menyelidiki tingkah mereka. Maklum membawa mereka jauh dari orang tua membuatku sedikit lebih hati-hati. Hanya doa yang sering terlontar semoga ada hikmah dalam perjalanan ini. Setelah semua keluar dari kolam, lalu mandi dan tukar pakaian.
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pembagian hadiah dari beberapa permainan. Masing-masing kelompok dapat hadiah. Serta medali untuk walas serta ustadz Bram. Sebagai oleh-mereka dapat sebungkus sayur organik. Alhamdulillah.
Ini hadiah untuk ibu, kata Aurora sambil menyodorkan beberapa bungkus cemilan. Hadiah lomba, kata Aurora. Terimakasih, ucapku sambil tersenyum. Hari sudah sore, di luar kaca mobil lampu jalanan menghias setiap sudut kota. Warna orange di langit berangsur tenggelam. Waktu mulai merayap dan magrib pun tiba. Sholat di Mesjid Al Husna adalah pilihan tepat karena menuju kota Duri melewati tol sekitar satu jam.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar